Bab I
Pendahuluan
A.Latar
Belakang
Pendidikan
dalam kehidupan manusia mempunyai peranan yang sangat penting. Pendidikan dapat
membentuk kepribadian seseorang yang diakui sebagai kekuatan yang dapat
menentukan prestasi dan produktifitas seseorang. Dengan bantuan pendidikan,
seseorang dapat memahami dan menginterpretasikan lingkungan yang dihadapinya.
Proses
pendidikan sebenarnya telah berlangsung sepanjang sejarah dan berkembang
sejalan dengan perkembangan sosial budaya manusia di bumi. Begitu pula dengan
pendidikan Islam yang pertama kali diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW dengan
berbagai hambatan dan pertentangan dari orang-orang yang tidak mempercayai dan
menentang ajaran Islam. Pelaksanaan pendidikan di zaman Rasulullah dapat dibagi
ke dalam dua tahap, baik dari segi waktu, tempat, maupun isi dan materi
pendidikannya yaitu tahap pendidikan yang dilaksanakan di Makkah, dan tahap
pendidikan yang dilaksanakan di Madinah.
B. Rumusan
Masalah
1. Apa yang
dimaksud masa pembinaan pendidikan Islam?
2. Bagaimana karakteristik
masyarakat Makkah?
3. Bagaimana
pendidikan masa pembinaan Islam periode Makkah?
4. Bagaimana
karakteristik masyarakat Madinah?
5. Bagaimana
pendidikan masa pembinaan Islam periode Madinah?
C. Tujuan
Penulisan
1. Mengetahui
apa yang dimaksud dengan masa pembinaan pendidikan Islam 2. Mengetahui karakteristik masyarakat Makkah
3. Mengetahui
pendidikan masa pembinaan Islam periode Makkah
4. Mengetahui
karakteristik masyarakat Madinah 5. Mengetahui pendidikan masa pembinaan Islam peride Madinah
Bab II
Pembahasan
A. Masa pembinaan pendidikan Islam
Pendidikan Islam terjadi sejak Nabi Muhammad diangkat
menjadi Rasul Allah di Makkah dan beliau sendiri yang menjadi gurunya.
Pendidikan masa ini merupakan proto type yang terus menerus dikembangkan oleh
umat Islam untuk kepentingan pendidikan pada zamannya.
Yang dimaksud masa pembinaan Islam adalah masa
dimana proses penurunan ajaran Islam kepada Nabi Muhammad SAW dan proses
pembudayaannya (masuknya ke dalam kebudayaan manusiawi, sehingga diterima dan
menjadi unsur yang menyatu dalam kebudayaan manusia) berlangsung. Masa tersebut
berlangsung sejak Nabi Muhammad SAW menerima wahyu dan menerima pengangkatannya
sebagai Rasul, sampai dengan lengkap dan sempurnanya ajaran Islam menjadi
warisan budaya umat Islam, sepeninggal Nabi Muhammad SAW. Masa tersebut
berlangsung selama 22 atau 23 tahun sejak beliau menerima wahyu pertama kali,
yaitu 17 Ramadhan 13 tahun sebelum Hijrah (6 Agustus 610 M) sampai dengan
wafatnya pada tanggal 12 Rabi’ul Awwal 11 H (8 Juni 632 M).
Ajaran Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW
berfungsi untuk meluruskan perkembangan budaya umat manusia yang ada pada zaman
itu dan meletakkan unsur-unsur baru yang akan menjadi dasar memacu perkembangan
budaya selanjutnya.
B. Karakteristik masyarakat Makkah
Pada waktu munculnya Rasulullah, bangsa Makkah
sedang melewati masa kebodohan. Seluruh kehidupan sosial terjerumus ke dalam
kenistaan dan pelanggaran-pelanggaran sosial. Penyembahan berhala dan
politeisme merupakan tatanan-tatanan pada waktu itu. Mabuk, judi, dan zina
merupakan perbuatan yang umum dari bangsa itu. Pembunuhan bayi perempuan
merupakan mode yang digemari oleh bangsa Makkah, dan kaum wanita adalah kaum
yang paling rendah derajadnya di dalam masyarakat Makkah. Mereka tidak
mempunyai hak sosial atau hak hukum.
Persaingan antara keturunan atau kaum yang ada
pada saat itu sangat berpengaruh, terutama pada kaum Quraisy dimana saat itu
mereka sangat berpengaruh dan mempunyai kekusaan. Sehingga kaum Quraisy sangat
enggan tunduk kepada nabi Muhammad SAW yang secara garis keturunan berasal dari
kaum Abdul Muthalib, karena takut akan kehilangan kekuasaan dan kedudukan.
Orang-orang di Makkah sangat kuat memegang
teguh kepercayaan nenek moyang mereka. Tradisi tersebut dianggap hal yang
mutlak serta membawa keberuntungan dan sangat sulit untuk ditinggalkan. Membuat
ataupun memahat patung adalah salah satu sumber ekonomi masyarakat Makkah saat
itu disamping berdagang.
C. Pendidikan masa pembinaan Islam periode Makkah
Makkah adalah kota suci umat Islam, tempat
berdirinya Ka’bah, tempat umat Islam melaksanakan ibadah haji yang merupakan
rukun Islam kelima dan tempat kelahiran Nabi Muhammad SAW. Sebelum Nabi
Muhammad memulai tugasnya sebagai Rasul, yaitu melaksanakan pendidikan Islam
terhadap umatnya, Allah telah mendidik dan mempersiapkannya untuk melaksanakan
tugas tersebut secara sempurna melalui pengalaman, pengenalan, serta peran
sertanya dalam kehidupan masyarakat dan lingkungan budayanya.
Nabi Muhammad SAW menerima wahyu yang pertama
dari Allah SWT di Gua Hira’ pada tahun 610 M sewaktu beliau telah mencapai umur
40 tahun, sebagai petunjuk dan intruksi untuk melaksanakan tugasnya, yaitu QS.
Al Alaq ayat 1–5:
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ (1) خَلَقَ
الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ (2) اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ (3) الَّذِي عَلَّمَ
بِالْقَلَمِ (4) عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ (5)
1.Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang
Menciptakan, 2. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah, 3. Bacalah,
dan Tuhanmulah yang Maha pemurah, 4. yang mengajar (manusia) dengan perantaran
kalam, 5. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.
Kemudian
disusul dengan wahyu yang berikutnya, yaitu QS. Al Muddatsir ayat 1–7:
يا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ (1) قُمْ فَأَنْذِرْ
(2) وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ (3) وَثِيابَكَ فَطَهِّرْ (4) وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْ (5(
وَلا تَمْنُنْ تَسْتَكْثِرُ (6) وَلِرَبِّكَ
فَاصْبِرْ (7)
1. Hai
orang yang berkemul (berselimut), 2. bangunlah, lalu berilah peringatan! 3. dan
Tuhanmu agungkanlah! 4. dan pakaianmu bersihkanlah, 5. dan perbuatan dosa
tinggalkanlah, 6. dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh
(balasan) yang lebih banyak. 7. dan untuk (memenuhi perintah) Tuhanmu,
bersabarlah.
Perintah dan petunjuk tersebut pertama-tama
ditujukan kepada Nabi Muhammad SAW tentang apa yang harus beliau lakukan, baik
terhadap dirinya sendiri maupun umatnya. Kemudian bahan materi pendidikan
tersebut diturunkan secara berangsur-angsur sedikit demi sedikit. Setiap kali
menerima wahyu, segera disampaikan kepada umatnya diiringi penjelasan dan
contoh-contoh bagaimana pelaksanaannya.
Pendidikan masa pembinaan Islam periode Makkah,
yakni sejak Nabi diutus sebagai Rasul hingga hijrah ke Madinah, kurang lebih
sejak 610–622 M atau selama 12 tahun 5 bulan 21 hari. Mula-mula pola pendidikan
dilaksanakan secara sembunyi-sembunyi, mengingat kondisi sosial-
politik yang belum stabil. Dimulai dari
keluarganya sendiri dan keluarga dekatnya, pertama
beliau mendidik istrinya, Khadijah untuk
beriman kepada dan menerima petunjuk dari Allah, kemudian diikuti oleh Ali Ibn
Abi Thalib (anak pamannya) dan Zaid Ibn Haritsah (pembantu rumah tangga yang kemudian diangkat sebagai
anak angkatnya). Kemudian sahabat karibnya Abu Bakar ash Shidiq. Secara
berangsur-angsur ajakan tersebut disampaikan secara meluas, seperti Usman Ibn
Affan, Zubair Ibn Awwan, Sa’ad Ibn Abi Waqas, Abdurrahman Ibn ‘Auf, Thalhah Ibn
Ubaidillah, Abu Ubaidillah Ibn Jahrah, Arqam Ibn Abi Arqam, Fathimah binti
Khattab, Said Ibn Zaid, dan beberapa orang lainnya. Mereka semua disebut
“assabuiqunal awwalun”, artinya orang-orang yang mula-mula masuk Islam. Sebagai
lembaga pendidikan dan pusat kegiatan pendidikan Islam yang pertama pada era
awal ini adalah rumah Arqam Ibn Abi Arqam.
Setelah selama lebih dari 3 tahun berdakwah
secara sembunyi-sembunyi, turunlah perintah agar Nabi menjalankan dakwah secara
terbuka, yakni QS. Al Hijr ayat 94:
فَٱصْدَعْ
بِمَا تُؤْمَرُ وَأَعْرِضْ عَنِ ٱلْمُشْرِكِينَ
Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan
segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang
musyrik.
Mula-mula Nabi mengundang dan menyeru kepada
kerabat karibnya dari bani Abdul Muthalib, “saya tidak melihat seorangpun di
kalangan Arab yang dapat membawa sesuatu ketengah-tengah mereka lebih baik dari
apa yang saya bawa kepada kalian. Kubawakan kepadamu dunia dan akhirat terbaik.
Tuhan memerintahkan saya untuk mengajak kalian semua. Siapakah di antara kalian
yang mau mendukung saya dalam hal ini? Mereka semua menolak, kecuali Ali.
Strategi dakwah selanjutnya yang diambil
Rasulullah adalah menyeru kepada masyarakat umum, segenap lapisan masyarakat
Islam dengan terang-terangan baik golongan bangsawan maupun hamba sahaya, dan
umat manusia secara keseluruhan. Pada musim haji Rasulullah mendatangi
kemah-kemah jamaah untuk menyampaikan seruan Islam, tidak semua jamaah yang
menerimanya, kecuali satu kelompok yang berasal dari Yatsrib dari kabilah
Khajraj. Penerimaan masyarakat Yatsrib terhadap ajaran Islam dikarenakan
beberapa faktor, yaitu:
1. Adanya kabar dari kaum Yahudi akan lahirnya
seorang Rasul.
2. Suku Khajraj dan Aus mendapat tekanan dan
ancaman dari kelompok Yahudi.
3.Konflik
antara suku Khajraj dan Aus yang berlangsung lama, mereka mengharapkan pemimpin
yang mampu melindungi dan mendamaikan mereka.
Pada musim haji ke 12 kenabian, datang dua
belas orang laki-laki dan seorang perempuan penduduk Yatsrib menemui Rasulullah
di Aqabah untuk menyatakan ba’iah kepada Rasulullah yang dikenal dengan “Ba’iah
Aqabah I”.
Setelah musim
haji selesai, mereka kembali ke Yatsrib dengan membawa bekal ilmu pengetahuan
yang diperoleh dan semangat Islam yang berkobar, mereka diminta Rasulullah
untuk menyampaikan Islam kepada penduduk Yatsrib lainnya. Musim haji
berikutnya, 73 orang jamaah haji dari Yatsib mendatangi Rasulullah dan
menetapkan keimanan kepada Allah di Aqabah, yang kemudian dikenal dengan
“Bai’ah Aqabah II”.
Dalam memberikan pembinaan umat Islam di
Makkah, ada dua bidang pokok yang digarap oleh Rasulullah, yaitu:
1. Pendidikan tauhid, dalam teori dan praktek
Intisari pendidikan Islam di Makkah adalah
ajaran tauhid yang menjadi perhatian utama Rasulullah. Pada saat itu masyarakat
Jahiliyah sudah banyak menyimpang dari ajaran tauhid yang telah dibawa oleh
Nabi Ibrahim. Karena tauhid merupakan pondasi paling dasar, maka harus ditata
terlebih dahulu. Pokok-pokok ajaran tauhid tercermin dalam QS. Al Fatihah,
sebagai berikut:
a.
Bahwa Allah adalah pencipta alam semesta yang sebenarnya. Itulah sebabnya, maka
Dialah yang berhak mendapatkan segala pujian.
b.
Bahwa Allah telah memberikan nikmat, segala keperluan bagi makhlukNya, dan
khusus manusia ditambah petunjuk dan bimbngan agar mendapatkan kebahagiaan
dunia ahirat.
c.
Bahwa Allah adalah raja di hari kemudian yang akan memperhitungkan segala amal perbuatan
manusia di dunia ini.
d.
Bahwa Allah adalah sesembahan yang sebenarnya dan yang satu-satunya. Hanya
kepada Allah segala bentuk pengabdian ditujukan.
e.
Bahwa Allah adalah penolong yang sebenarnya, dan oleh karena itu hanya
kepadaNya lah manusia meminta pertolongan.
f.
Bahwa Allah sebenarnya yang membimbing dan memberi petunjuk kepada manusia
dalam mengarungi kehidupan dunia yang penuh rintangan, tantangan dan godaan.
2. Pengajaran Al Qur’an
Al Qur’an merupakan intisari dan sumber pokok
dari ajaran Islam yang disampaikan Nabi Muhammad SAW kepada umat agar secara
utuh dan sempurna menjadi milik umatnya yang selanjutnya akan menjadi warisan
turun temurun, dan menjadi pegangan pedoman hidup bagi kaum Muslimin sepanjang
zaman.
Selain itu,
dalam kedua wahyu yang mula-mula turun (QS. Al Alaq: 1–5 dan QS. Al Muddatsir:
1–7), pendidikan dalam Islam di Makkah terdiri dari 4 macam, yaitu:1.
Pendidikan keagamaan, yaitu hendaklah membaca dengan nama Allah semata-mata,
jangan mempersekutukannya dengan nama berhala, karena Tuhan itu Maha Besar dan
Maha Pemurah, sebab itu hendaklah dienyahkan berhala itu sejauh-jauhnya.2.
Pendidikan ‘akliyah dan ilmiyah, yaitu mempelajari kejadian manusia dari
segumpal darah dan kejadian alam semesta.3. Pendidikan akhlak dan budi pekerti,
yaitu Nabi Muhammad SAW mengajar sahabatnya agar berakhlak baik sesuai dengan
ajaran tauhid.4. Pendidikan jasmani (kesehatan), yaitu mementingkan kebersihan
pakaian, badan dan tempat kediaman.
Pengajaran dan pendidikan yang dilakukan Nabi
Muhammad SAW menggunakan berbagai metode yang sesuai dengan fitrah manusia,
yakni sebagai makhluk yang memiliki berbagai kecenderungan, kekurangan, dan
kelebihan. Untuk itu, terkadang beliau menggunakan metode ceramah, diskusi,
musyawarah, tanya jawab, bimbingan, teladan, demonstrasi, bercerita, hafalan,
penugasan, dan bermain peran. Adapun pendekatan yang digunakan Nabi Muhammad
SAW adalah pendekatan fitrah, yakni memberikan ajaran sesuai intelektual,
kecerdasan peserta didik, latar belakang, dan situasi kondisi yang menyertainya.
D. Karakteristik masyarakat Madinah
Keadaan masyarakat Madinah sebelum datangnya
Nabi Muhammad disana sama halnya dengan keadaan masyarakat Makkah. Pelanggaran
hukum merupakan keadaan sehari-hari. Suku-suku yang tinggal disana berperang satu
sama lain, yaitu terbagi menjadi dua suku, suku Aus dan suku Khajraj.
Tidak ada pemerintahan yang memaksakan hukum
dan ketertiban. Nabi Muhammad, setelah datang disana, menghapuskan semua
perbedaan suku dan mengelompokkan penduduk dengan satu nama umum yaitu Anshor.
Dia melaksanakan hukum dan ketertiban, membuat perdamaian, dan dengan begitu
mengukuhkan itikad baik orang-orang Madinah.
E. Pendidikan masa pembinaan Islam periode
Madinah
Karena di Makkah selalu mendapatkan tantangan
dari kaum Quraisy yang selalu mengganggu dakwah Islam, Rasulullah akhirnya hijrah
ke Madinah (Yatsrib). Kedatangan Rasulullah bersama kaum muslimin Makkah
(Muhajirin) disambut oleh penduduk Madinah (Ansor) dengan gembira dan penuh
rasa persaudaraan, karena sudah banyak penduduk Madinah yang memeluk agama
Islam. Maka Islam mendapat lingkungan baru yang memungkinkan Rasulullah untuk
meneruskan da’wah menyampaikan ajaran Islam.
Pada periode
ini, tahun 622–632 M atau tahun 1–11 H. Usaha pendidikan yang pertama adalah
membangun masjid. Masjid Quba merupkan masjid pertama yang dijadikan Rasulullah
sebagai institusi pendidikan. Melalui pendidikan masjid ini, Rasulullah
memberikan pengajaran dan pendidikan Islam. Ayat-ayat Al Qur’an yang diterima
di Madinah sebanyak 22 surat, sepertiga dari isi Al Qur’an.
Di masjid itulah pusat kegiatan pendidikan
Rasulullah SAW bersama kaum muslimin membina masyarakat baru, masyarakat yang
disinari oleh tauhid, dan mencerminkan persatuan kesatuan umat. Di masjid itu
juga digunakan untuk bermusyawarah mengenai berbagai urusan, mendirikan shalat
berjamaah, membacakan Al Qur’an, maupun membacakan ayat-ayat yang baru
diturunkan.
Tujuan dan materi pendidikan Islam di Madinah
semakin luas dibandingkan pendidikan Islam di Makkah, seiring dengan
perkembangan masyarakat Islam dan petunjuk-petunjuk Allah. Pendidikan Islam
tidak hanya diarahkan untuk membentuk pribadi kader Islam, tetapi umat Islam
juga dibekali dengan pendidikan tauhid, akhlak, amal ibadah, kehidupan sosial
kemasyarakatan dan keagamaan, ekonomi, kesehatan, bahkan kehidupan bernegara.
Adapun titik tekan pendidikan Islam pada
periode Madinah adalah:
1. Pembentukan dan pembinaan masyarakat baru,
menuju satu kesatuan sosial dan politik. Dalam hal ini Rasulullah melaksanakan
pendidikan sebagai berikut:
a.
Rasulullah SAW mengikis habis sisa-sisa permusuhan dan pertengkaran antar suku
(Khajraj dan Aus), dengan jalan mengikat tali persaudaraan di antara mereka.
b.
Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Rasulullah menganjurkan kepada kaum
Muhajirin untuk berusaha dan bekerja sesuai dengan kemampuan dan pekerjaan
masing-masing seperti waktu di Makkah.
c.
Menjalin kerjasama dan tolong menolong dalam membentuk tata kehidupan
masyarakat yang adil dan makmur, turunlah syari’at zakat dan puasa yang
merupakan pendidikan bagi warga masyarakat dalam tanggung jawab sosial.
d.
Disyariatkannya media komunikasi berdasarkan wahyu, yaitu shalat jumat yang
dilaksanakan secara berjamaah dan adzan. Dengan shalat jumat tersebut hampir
seluruh warga masyarakat berkumpul langsung mendengar khotbah Rasulullah SAW
dan shalat jumat berjamaah.
2. Pendidikan sosial politik dan
kewarganegaraan, dilaksanakan melalui:
a. Pendidikan ukhuwah (persudaraan) antar kaum
muslimin.
Dalam melaksanakan pendidikan ukhuwah ini, nabi Muhammad Saw.
Bertitik tolak dari struktur kekeluargaan yang ada pada msa itu. Untuk
mempersatukan keluarga itu nabi Muhammad berusaha untuk mengikatnya menjadi
satu kesatuan yang terpadu. Mereka di persaudarakan karena Allah bukan karena
yang lain-lain. Sesuai dengan isi konsitusi Madinah pula, bahwa
antara orang yang beriman, tidak boleh membiarkan saudaranya
menanggung beban hidup dan utang yang berat di sesame meraka. Antara
orang beriman satu dengan yang lainnya haruslah saling membantu dalam
menghadapi segala persoalan hidup. Mereka harus bekerja sama dalam
mendatangkan kebaikan, mengurus kepentingan bersama, dan menolak kejahatan atau
kemudaratan atau kejahatan yang akan menimpa.
b. Pendidikan kesejahteraan sosial dan tolong
menolong.
Terjaminnya kesejahteraan social, tergantung pertama-tama pada
terpenuhinya kebutuhan pokok dari pada kehidupan sehari-hari. Untuk itu setiap
orang harus bekerja mencari nafkah tetapi problem yang dihadapi masyarakat
baru di Madinah dalam hal itu adalah masalah pekerjaan, terutama bagi kaum
muhajiri, sedangkan kaum anshor sudah mempunyai pekerjaan sebagai petani dan
memiliki sebidang tanah. Dan perdagangan, pada umumnya di kusai oleh
orang-orang yahudi.
c. Pendidikan kesejahteraan keluarga kaum
kerabat.
Yang dimaksud dengan keluarga adalah suami, istri, dan
anak-anaknya. Nabi Muhammad SAW berusaha untuk memperbaiki keadaan itu dengan
memperkenalkan dan sekaligus menerapkan system kekeluargaan kekerabatan
baru, yang berdasarkan kepada Allah. Dan berdasarka pada pengakuan
hak-hak individu, hak-hak keluarga dan kemurnian keturunannya dalam kehidupan
kekerabatan dan kemasyarakatan yang adil dan seimban
3. Pendidikan anak dalam Islam. Rasulullah
selalu mengingatkan kepada umatnya, antara lain:
a. Agar kita selalu menjaga diri anggota
keluarga dari api neraka.
b.
Agar jangan meninggalkan anak dan keturunan dalam keadaan lemah dan tidak
berdaya menghadapi tantangan hidup.
c.
Orang yang dimuliakan Allah adalah orang yang berdoa agar dikaruniai keluarga
dan keturunan yang menyenangkan hati.
Bentuk-bentuk pendidikan anak dalam Islam
sebagaimana digambarkan dalam QS. Luqman ayat 13–19 adalah:
a. Pendidikan tauhid.
b. Pendidikan shalat.
c. Pendidikan sopan dan santun dalam keluarga.
d. Pendidikan sopan dan santun dalam mayarakat.
e. Pendidikan kepribadian.
4. Pendidikan hankam (pertahanan dan keamanan)
dakwah Islam. Rasulullah meletakkan dasar-dasar kehidupan masyarakat, yaitu:
a.
Pembangunan masjid, selain digunakan untuk tempat shalat, sarana mempersatukan
umat Islam, bermusyawarah, masjid juga berfungsi sebagai pusat pemerintahan.
b.
Ukhuwah Islamiyah (persaudaraan sesama muslim), Rasulullah mempersaudarakan
antara golongan Muhajirin dan Ansor. Dengan demikian persaudaraan berdasarkan
agama, bukan hanya berdasarkan darah.
c. Hubungan persahabatan dengan pihak-pihak lain
yang tidak beragama Islam.
Bab
III
Penutup
A.Kesimpulan
Pendidikan
dalam kehidupan manusia mempunyai peran yang sangat penting. Pendidikan dapat
membentuk kepribadian seseorang yang diakui sebagai kekuatan yang dapat
menentukan prestasi dan produktifitas seseorang . Pendidikan islam yang pertama
kali diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW dengan berbagai hambatan dan pertentangan
dari orang-orang yang tidak mempercayai dan menentang ajaran islam. Pelaksanaan
pendidikan di zaman Rasulullah dapat dibagi kedalam 2 baik dari segi waktu,
tempat maupun isi dan materi pendidikannya, yaitu tahap pendidikan yang
dilaksanakan di Mekkah dan tahap pendidikan yang dilaksanakan di Madinah.
a.Pendidikan
masa pembinaan islam periode Mekkah
Mekkah adalah
kota suci umat islam, tempat berdirinya Ka’bah, tempat umat islam melaksanakan
ibadah haji yang merupakan rukun islam kelima dan tempat kelahiran Nabi
Muhammad SAW. Pendidikan masa pembinaan islam periode Mekkah yakni sejak nabi
diutus sebagai rasul hingga hijrah ke Madinah, kurang lebih sejak 610-622 M
atau selama 12 tahun 5 bulan 21 hari.
b. Pendidikan
masa pembinaan islam periode Madinah
Karena Mekkah
selalu mendapatkan tantangan dari kaum Quraisy yang selalu mengganggu dakwah
islam, Rasulullah akhirnya hijrah ke Madinah (Yatsrib). Pada periode ini tahun
622-632M atau tahun 1-11H usaha pendidikan yang pertama adalah membangun
masjid. Masjid Quba merupakan masjid pertama yang dijadikan Rasulullah sebagai
instusi pendidikan.
Tujuan dan
materi pendidikan islam di Madinah semakin luas dibandingkan pendidikan islam
di Mekkah, seiring dengan perkembangan masyarakat islam dan petunjuk-petunjuk
Allah.
Pendidikan
islam tidak hanya disarankan untuk membentuk pribadi kader islam, tetapi umat
islam juga dibekali dengan pendidikan tauhid, akhlak, amal ibadah, kehidupan
sosial kemasyarakatan dan keagamaan, ekonomi, kesehatan, bahkan kehidupan
bernegara.
B. Saran
Penulis
menyadari bahwa dalam penulisan makalh ini, masih banyak terdapat kekurangan.
Oleh karena itu, kritikan dan saran yang sifatnya membangun sangat kami
harapkan guna perbaikan makalah kami dimasa yang akan datang.